ORANG BATAK YANG SUKSES DENGAN BATIK
PEKALONGAN

Jugia Boru Marpaung.
Mendengar nama itu mungkin tak terpikirkan jika wanita ini pengusaha batik
Pekalongan. Bukan Anda saja yang terkejut, Presiden Susilo Bambang yudhoyono
pun heran ketika mengetahui pebisnis batik Jawa ini keturunan Batak.
Ini adalah pengalaman yang sangat menarik bagi Jugia ketikabooth-nya dikunjungi Presiden dalam satu pameran di JCC, pertengahan tahun lalu. “Waktu itu Presiden menanyakanneng ndi Jawane?” ujar Jugia menirukan SBY, kepadaVIVAnews.
Jugia menjawab kalau dia bukan Jawa. Pada saat itulah Presiden menyampaikan rasa salutnya kepada Jugia yang merupakan orang Sumatera Utara. “Ini bagus buat memotivasi orang Jawa, orang Batak saja bisa melestarikan budaya Jawa, masa orang Jawa tidak bisa,” katanya lagi, menirukan SBY.
Perempuan kelahiran Medan 28 Juni 1963 ini memulai bisnis batik tulis Pekalongan sekitar 5 tahun lalu. Saat itu untuk memulai bisnisnya Jugia harus rela mengeluarkan modal setiap minggu Rp16 juta untuk keperluan produksi. “Waktu pertama kita ga bisa langsung jual, jadi kita kumpulkan dulu sampai ada 200 pieces,” ujarnya.
Pada awalnya perusahaannya yang diberikan nama Art@ Batik ini hanya membuat batik tulis saja, namun seiring berjalannya waktu ia ikut memproduksi batik cetak.
Ide untuk berbisnis batik ini datang dari ibunya yang selalu memakai batik ke mana pun pergi. Saat ia masih muda pun, ibu Jugia selalu menyarankan anaknya memakai batik. Dari situ lah ia berpikir untuk mengembangkan usaha batik ini.
“Kalau saya berjualan batik, sampai saya tidak ada pun usaha ini akan terus berjalan karena akan ada yang memakainya,” ujar Jugia.
Modal usahanya ini diperoleh dari suaminya yang bekerja sebagai kontraktor. “Dalam dua tahun pertama merintis usaha, mungkin saya sudah habis sampai Rp2 miliar,” ujarnya.
Jugia sempat hampir patah arang atas usahanya ini. Ia terus menerus melakukan pendekatan pasar dengan mengikuti berbagai macam pameran, walau nasib baik belum berpihak padanya. “Mungkin ada tiga kali pameran batik saya tidak ada yang membeli,” ujar dia.
Nasib pabrik batik Jugia mulai berubah kekita ia bertemu dengan Yultin Ginanjar Kertasasmita dari Yayasan Batik Indonesia. Ibu Ginanjar inilah yang menawarkan masuk dalam asosiasi. Dari situlah ia terbantu, khususnya dalam hal pemasaran.
Ini adalah pengalaman yang sangat menarik bagi Jugia ketikabooth-nya dikunjungi Presiden dalam satu pameran di JCC, pertengahan tahun lalu. “Waktu itu Presiden menanyakanneng ndi Jawane?” ujar Jugia menirukan SBY, kepadaVIVAnews.
Jugia menjawab kalau dia bukan Jawa. Pada saat itulah Presiden menyampaikan rasa salutnya kepada Jugia yang merupakan orang Sumatera Utara. “Ini bagus buat memotivasi orang Jawa, orang Batak saja bisa melestarikan budaya Jawa, masa orang Jawa tidak bisa,” katanya lagi, menirukan SBY.
Perempuan kelahiran Medan 28 Juni 1963 ini memulai bisnis batik tulis Pekalongan sekitar 5 tahun lalu. Saat itu untuk memulai bisnisnya Jugia harus rela mengeluarkan modal setiap minggu Rp16 juta untuk keperluan produksi. “Waktu pertama kita ga bisa langsung jual, jadi kita kumpulkan dulu sampai ada 200 pieces,” ujarnya.
Pada awalnya perusahaannya yang diberikan nama Art@ Batik ini hanya membuat batik tulis saja, namun seiring berjalannya waktu ia ikut memproduksi batik cetak.
Ide untuk berbisnis batik ini datang dari ibunya yang selalu memakai batik ke mana pun pergi. Saat ia masih muda pun, ibu Jugia selalu menyarankan anaknya memakai batik. Dari situ lah ia berpikir untuk mengembangkan usaha batik ini.
“Kalau saya berjualan batik, sampai saya tidak ada pun usaha ini akan terus berjalan karena akan ada yang memakainya,” ujar Jugia.
Modal usahanya ini diperoleh dari suaminya yang bekerja sebagai kontraktor. “Dalam dua tahun pertama merintis usaha, mungkin saya sudah habis sampai Rp2 miliar,” ujarnya.
Jugia sempat hampir patah arang atas usahanya ini. Ia terus menerus melakukan pendekatan pasar dengan mengikuti berbagai macam pameran, walau nasib baik belum berpihak padanya. “Mungkin ada tiga kali pameran batik saya tidak ada yang membeli,” ujar dia.
Nasib pabrik batik Jugia mulai berubah kekita ia bertemu dengan Yultin Ginanjar Kertasasmita dari Yayasan Batik Indonesia. Ibu Ginanjar inilah yang menawarkan masuk dalam asosiasi. Dari situlah ia terbantu, khususnya dalam hal pemasaran.
Karena masuk asosiasi, sekarang, produknya selalu ditaruh di
daerah paling depan, sehingga orang yang lewat lebih banyak dan potensi
pembelinya lebih besar.
Tak cuma masuk Asosiasi dan mengikuti pameran-pameran, Jugia
juga terus mencari jaringan pemasaran sendiri, salah satunya dengan Sogo.
Kerjasama ini menggunakan sistem berbagi keuntungan.
Sogo lah yang membantu penjualannya di saat sulit. “Saat ini pendapatan bersih saya dari Sogo sudah mencapai Rp30 juta per bulan,” katanya.
Jugia sedang mencari celah memperluas pasar ke luar negeri. “saya sedang meminta bantuan dari Kementrian Perdagangan,” ujarnya. Jugia mengakui belum mempunyai pasar di luar negeri. Sesekali ia di luar negeri hanya mengikuti pameran.
Di pabrik batik Pekalongan, ia memperkerjakan 62 karyawan. Jumlah ini menurun dari jumlah karyawan awalnya yang mencapai 82 orang. Ini wajar karena efisiensi setelah ia mulai menjual batik cetak.
Saat ini kisaran harga kain batik tulis produknya relatif mahal, Rp3 juta ke atas. Ini bergantung pada desain dan kesulitannya. Untuk batik cetak atau pakaian batik cetak dijual bervariasi dari Rp700 ribu hingga jutaan rupiah.
Sogo lah yang membantu penjualannya di saat sulit. “Saat ini pendapatan bersih saya dari Sogo sudah mencapai Rp30 juta per bulan,” katanya.
Jugia sedang mencari celah memperluas pasar ke luar negeri. “saya sedang meminta bantuan dari Kementrian Perdagangan,” ujarnya. Jugia mengakui belum mempunyai pasar di luar negeri. Sesekali ia di luar negeri hanya mengikuti pameran.
Di pabrik batik Pekalongan, ia memperkerjakan 62 karyawan. Jumlah ini menurun dari jumlah karyawan awalnya yang mencapai 82 orang. Ini wajar karena efisiensi setelah ia mulai menjual batik cetak.
Saat ini kisaran harga kain batik tulis produknya relatif mahal, Rp3 juta ke atas. Ini bergantung pada desain dan kesulitannya. Untuk batik cetak atau pakaian batik cetak dijual bervariasi dari Rp700 ribu hingga jutaan rupiah.
1. Kapan
ia mulai usaha, dimana, dan usaha yang sama?
Jawab: Jugia memulai usahanya sebagai pembatik pekalongan sekitar 5
tahun, dia memulai bisnisnya dipasar2 yang banyak didatangi orang, dan juga
pameran2 yang ada dipasar juga diikutinya.Ide untuk mengembangkan usaha batik
ini didapatnya dari ibunya sendiri karena sejak kecil Jugia sudah dibiasakan
oleh ibunya memakai batik dan akhirnya ibu Jugia pun mempunyai ide agar Jugia
mengambangkan usaha batik.
2. Apakah
ia mengembangkan usahanya dengan usaha mandiri?
Jawab: Ia, dia hanya mendapat ide saja dari ibunya dan yang
mengembangakn usaha ini hanya dia sendiri.
3. Sumber
modal awal usahanya adalah dana sendiri atau dana dari luar. Sebutkan berapa
jumlah modal usanya.
Jawab: Dana dari luar: Modal petamaya dia dibantu oleh suaminya sendiri yang bekerja
sebagai kontraktor sebesar 10.000.000.
4. Dimana
ia pada saat awal memasukkan produknya?
Jawab: Pada awal pemasaran ia mencoba untuk memperkenalkan alias
menjual produknya dipameran2 yang sering ada di pasar, akan tetapi usahanya itu
tidak begitu laris.
5. Produk
yang dijualnya smakah dengan yang pertama?
Jawab: Ia , produknya hanyalah batik yang dari permulaan hingga
sampai ia sukses dari produknya tersebut.
6. Siapa
pemilik usaha tersebut saat awal hingga sekarang?
Jawab: Dari awal hingga sampai sekarang ini masih hanya Jugia orang
sebagai pemilik batik pekalongan.
7.
Apa bentuk kepemilikannya?
Jawab: Tidak memiliki bentuk apapun, karena usaha ini terbuka barang
siapa yang ingin mau bekerja sebagai pembatik.
8.
Berapa banyak tenaga kerja dari awal hingga sekarang?
Jawab: Pekerja awal ia memiliki 82 orang pekerja akan tetapi setelah
beberapa lama karna ia mengubah bentuk usahanya menjadi penjual batik cetak
sehingga pekerjanya berkurang menjadi 62 orang karyawan dan itu sampai
sekarang.
9.
Apakah ada sistem manajemen sampai sekarang ?
Jawab. Tidak ada
10. Apakah
ada ditunjuk sebagai ketua / sebagai koordinator dalam kegiatan usaha.
Bagaimana cara penunjukannya ketua/ koordinator tersebut?
Jawab: Tidak ada, Jugia hanya sendiri sebagai ketua beserta
koordinatornya yang untuk bertanggung jawab dalam usaha ini.
11. Apakah
ada penghaargan yang dicapai dari usaha tersebut?
Jawab: Tidak ada, akan tetapi usaha Jugia ini menarik perhatian
presiden republik indonesia dengan usaha yang didirikan oleh Jugia, Presiden
salut dengan usaha betik Jlia karena tidak hanya sebagai pembatik akan tetapi
dia bukanlah orang jawa atau berasaldari jawa, akan Tetapi Julia adalah orang
batak yang dengan kemauan bekerja keras dia dapt sukses dari usaha batik ini.
12. Menurud
anda apakah usaha tersebut termasuk usaha sukses dengan menggunakan 7 aspek?
Jawab: ia
a.
Menentukan tujuan besar yang hendak dicapi
b.
Membuat dafta ide usaha
c.
Nilai kemampuan pribadi
d.
Memuat visi dan misi bisnis
e.
Perlunya winning,
positive dan learning attitude untuk menjadi sukses
f.
Optimalisasi
sumber daya manusia maka 50% usaha sudah berhasil
g.
Mengapa
kreativitas, kepemimpinan dan proses pembuatan keputusan sangat penting?
13. Menurud
anda apakah usaha tersebut dapat bertahan lama?
Jawab:ya, karena batik sangatlaha perlu bagi keragaman dan
keterrampilan berpakaian bagi para pekerja maupun usahawan, karena batik juga
suatu tradisi yang banyak digunakan adat jawa maka itu pastilah dpat berkembang
sebab batik tidak pernah tidak dibutuhkan bahka dicari banyak orang apalagi
batiknya memiliki carak dan bentuk yang
menarik akn membuat laris dimanapun. Begitu juga usaha yang dibuat oleh Jugia,
dia membuat usaha yang tepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar